Selamat Datang Di Blog SMP Salafiyah Darul falah

Rabu, 23 Maret 2016

Kisah Sufi: Imam Al Ghazali dan Seekor Lalat

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (450 H –505 H) atau lebih kita kenal sebagai Imam Al Ghazali atau Al Ghazali, adalah seorang Guru Sufi, filosof dan teolog muslim Persia (Iran), yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli falsafah Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia mempunyai daya ingatan yang kuat dan bijak dalam berhujjah, sehingga ia digelar Hujjatul Islam kerana kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati kerana keluasan ilmunya. Banyak sekali karya besarnya, antara lain : Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) ygmerupakan karyanya yang terkenal; Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan); Misykah al-Anwar ; Maqasid al-Falasifah; Tahafut al-Falasifah; Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul; Mi`yar al-Ilm;

al-Qistas al-Mustaqim serta Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq dlsb.

Pada suatu ketika Imam al-Ghazali menulis kitab. Pada waktu itu orang menulis menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan dulu kedalam tinta baru kemudian dipaakai untuk menulis, jika habis dicelup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.

Ditengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al- Ghazali. Lalat itu tampaknya sedang kehausan. Ia meminum tinta di mangkuk itu.

Melihat lalat yang kehausan itu, Imam al-Ghazali membiarkan saja lalat itu meminum tintanya. Lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan kasih sayang, fikir Al-Ghazali.

Ketika Al-Ghazali wafat, selang beberapa hari kemudian,seorang Ulama yang merupakan sahabat dekat beliau bermimpi. Dalam mimpi itu terjadilah dialog. Sahabatnya itu bertanya, ” Wahai Hujattul Islam, Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu? “.

Al-Ghazali menjawab, ” Allah telah menempatkanku di tempat yang paling baik “.

“Gerangan apakah sampai engkau ditempatkan Allah ditempat yang paling baik itu ? Apakah itu karena kealimanmu dan banyaknya kitab-kitab bermanfaat yang telah kau tulis?” tanya sahabatnya.

Al-Ghazali menjawab, ”Tidak, Allah memberiku tempat yg terbaik, hanya karena pada saat aku menulis aku memberikan kesempatan kepada seekor lalat untuk meminum tintaku kerana kehausan. Aku lakukan itu kerana aku sayang pada makhluk Allah. “

Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah bahawa tidak ada salahnya jika kita menolong mahluk Allah. Bayangkan hanya sekedar membiarkan lalat yang kehausan untuk minum saja menjadikan sebab seseorang masuk syurga, apalagi memberi makan kepada sesama manusia. bersedekah bagi sesama yang benar-benar memerlukan.

Dalam hadits lain, diriwayatkan bahawa Nabi bercerita ada seorang pelacur bisa masuk Syurga kerana memberi minum seekor anjing. Juga jangan remehkan dosa kecil kerana alam hadits diriwayatkan bahawa ada seorang wanita masuk neraka kerana  memelihara seekor kucing lalu mendzaliminya.

Jadi, jangan remehkan amal kecil kerana sebesar zarah pun akan diperhitungkan di akhirat kelak.

Allah Swt berfirman :” Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8)

Kisah di atas juga mengajari kita untuk tidak atau jangan pernah meremehkan amalan (kebaikan) sekecil apapun, kerana sesungguhnya kita tidak pernah tahu, bisa jadi amalan yang kita anggap kecil tersebut berarti besar di hadapan Allah Swt, dan justru amalan tersebutlah yang akan mengantarkan kita ke Syurga. Sebaliknya kita juga tidak tahu bahawa mungkin dosa (yang dianggap kecil) bisa menjerumuskan kita ke lembah kehinaan, Neraka Jahanam. a’udzubillahimindzalik.

Akan tetapi, terkadang kita terlalu mengejar amal-amal besar dan meremehkan amal kecil, padahal ketika beramal kecil seringkali kita mudah berasa ikhlas.

Kebaikan (Amal) itu tidak semestinya selalu kita menyumbang ke masjid, tapi sekedar membuang duri di jalanan atau sekedar memungut sampah, sekedar mengucap salam kepada sesama muslim yang belum kita kenal, sekedar senyum pada sahabat kita, tidak ada yang sia-sia. Jika kita boleh melakukan amal-amal ringan, kenapa harus menunggu kesempatan untuk beramal besar? Bukankah juga Allah itu menyukai amalan yang berterusan ( istiqamah ) meskipun sedikit?

Boleh jadi amalan kecil yang pernah kita lakukan merupakan amalan paling ikhlas sehingga boleh menyelamatkan kita di hari akhirat kelak. Boleh jadi amalan kecil tersebut menjadi pelindung kita dari siksa kubur, dan boleh jadi amalan kecil tersebut boleh menjadi perantara bagi dikabulkannya doa-doa kita. Boleh jadi juga amalan kecil tersebut menjadi penghapus dosa-dosa kita.

Kerana itu marilah mulai saat ini, lakukanlah secara dawam (konsisten) suatu amal ibadah yang kecil yang dilakukan ikhlas kerana Allah Swt semata-mata.

Allah Swt menyukai terhadap hambaNya yang melakukan amalan secara dawam (konsisten) dan ketika kita berhalangan (uzur syar’i) dan kita tidak dapat melakukan amal yang biasa kita dawamkan tersebut, In sya Allah,  Allah SWT akan tetap memberi pahala seperti kita melakukan amalan tersebut di hari lainnya.

Semoga Allah Swt memudahkan kita dan anak-anak keturunan kita untuk melakukan amalan-amalan kecil secara dawam dan memberikan keistiqamahan kepada kita menjalaninya dalam kehidupan ini, sehingga dapat mengundang keredaan dan kasih sayang dari Allah Swt,  Dan semoga Allah Swt menerima dan melipatgandakan pahala amalan-amalan kita baik yang kecil mahupun yang besar,. Aamiin.

Minggu, 20 Maret 2016

Mau Bunuh Nabi Malah Masuk Islam


Selama masa dakwah, ujian seakan tak ingin berhenti menghampiri Rasulullah SAW. Sebuah percobaan pembunuhan pernah menyasar dirinya ketika hendak berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Para kaum musyrikin pernah berembuk dalam sebuah tempat pertemuan (darun nadwah) tentang rencana menghabisi nyawa Nabi Muhammad. Mereka mengumumkan hadiah mewah bagi siapapun yang berhasil menggorok leher Nabi. Kelompok anti-tauhid ini menjanjikan seratus unta merah berbiji mata hitam (terbaik dan termahal) untuk orang yang sanggup menyerahkan tubuh atau kepala Nabi.

Suraqah ibn Malik. Dialah orang pertama kali berdiri dan menyanggupi sayembara jahat tersebut. Ia tidak menyia-nyiakan waktu. Suraqah meloncat ke atas kudanya dan mengejar perjalanan Nabi.

Suraqah beruntung. Usaha kerasnya mengantarkannya tepat di belakang Rasulullah. Bersama untanya Rasulullah tetap tampak tenang. Namun, dalam kondisi itu Suraqah justru menghunus padang dan langsung menyabetkannya ke arah kepala Nabi.

“Blessss..!” 

Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah fî Idlâhi Mawâ‘idh al-Ushfriyah dijelaskan, bumi saat itu tunduk kepada perintah Nabi. Tiba-tiba saja kaki kuda Suroqah ambles ke dalam tanah hingga lutut. Pedang pun gagal menyentuh kulit Nabi.

Suraqah hanya bisa mengeluh dan meminta pertolongan. Rasulullah, si korban percobaan pembunuhan itu, tanpa rasa sungkan menyelamatkannya. Hingga akhirnya Nabi meneruskan perjalanan hijrahnya seperti biasa.

Suraqah secara fisik memang selamat, tapi syahwat untuk mendapatkan hadiah sayembara yang melimpah ternyata menyesatan jalan pikirannya. Selang beberapa saat, ia kembali membuntuti Rasulullah dan mengulangi perbuatan kejinya. Kuda berpacu dan, sekali lagi, pedang siap dihantamkan.

“Blessss...!

Kali ini kaki kuda Suraqah terhisap bumi lebih dalam lagi, hingga mencapai perut. Lagi-lagi, Suraqah memohon ampun dan perlindungan Rasulullah. Ia bersumpah tak akan mengulangi tindakan jahatnya. Mendengar hal itu, Rasulullah memaafkan dan mendoakannya.

Suraqah turun dari tunggangannya dan duduk di depan unta Rasulullah. “Wahai Rasulullah, jelaskanlah padaku tentang Tuhanmu yang memiliki kekuatan yang sedemikian rupa. Apakah Dia terbuat dari emas? Atau dari perak?”

Nabi menunduk sembari diam cukup lama. Lantas Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan membacakan surat al-Ikhlas ayat 1-4 dan as-Syura ayat 11.

“Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang Islam,” pinta Suraqah.

Rasulullah memberitahunya hingga Suraqah masuk Islam. Kini Suraqah mendapatkan hadiah yang belum pernah ia bayangkan: menyaksikan teladan manusia suci yang bersih dari rasa dendam, dan memasuki dunia baru yang sarat nilai ketuhanan sebagai seorang muslim.

Sumber : nu.or.id

Bell Otomatis Madrasah/Sekolah "Gratis Yang Penting Mau..!!"

Bell merupakan salah satu sarana penting dalam memberikan batas/tanda waktu di Madrasah maupun sekolah. Hanya berbekal 1 Unit Komputer, 1 Unit Aplifier, Dan Toa sebagai pengeras audio, Madrasah/Sekolah bisa mememiliki Bell Otomatis yang akan berbunyi sendiri sesuai dengan Jadwal yang di atur.

Dengan adanya Bell Otomatis kesalahan teknis atau keterlambatan memencet bell secara manual akan terhindari, guru piketpun sedikit berkurang pekerjaan untuk datang ke tempat tertentu untuk memencet Bell.

Untuk Aplikasi Bellnya ada yang berbayar dan gratis... pake ajha aplikasi alarm komputer, cari ajha di google yang suport MP3 atau wav.

Rekomendasi pake Aplikasi Free Alarm Clock download ajha disini, dari pengalaman yang saya pasang di MTs/MAS Muta'allimin tidak ada kendala sudah 3 tahun berjalan.

Berikut Audionya :
Download : Audio Bell Ujianhttp://adf.ly/1Z55Kz (Indo-Ing)di pake audionya untuk ujian
Download : Audio Bell Jadwad Belajar+Kegiatan (Indo-Ing) di pake untuk kegiatan PBM
Download : Audio Bell Jadwal Belajar (Arab-Ing-Indo) di pake untuk kegiatan PBM

Jika ngak mau repot..!! ingin pasang ajha.. bleh menghubungi call or sms saya di 0811-6822-023. untuk kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.





Jumat, 18 Maret 2016

"Raja Yang Meninggalkan Istana" Ibrahim Bin Adham


Dia adalah raja di Balkh satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurasan, menggantikan ayahnya yang baru mangkat. Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrahim bin Adham juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.

Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrahim menegur orang itu, “Apa yang tengah kamu lakukan di atas sana?” Orang itu menjawab, “Saya sedang mencari ontaku yang hilang.” “Apa kamu sudah gila, mencari onta di atas genteng,” sergahnya. Namun orang itu balik menyerang, “Tuan yang gila, karena tuan mencari Allah di istana.”

Jawabannya membuat Ibrahim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus menerus menerawang merenungi kebenaran kata kata itu. Hingga adzan Shubuh berkumandang Ia tetap terjaga. Esok harinya, keadaannya tidak berubah. la gelisah, murung, dan sering menyendiri. la terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu. Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikin berkurang.

Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadarl kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti. Ketika ia berusaha bangun, tiba tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya.

Tetapi, saat dia hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Namun, Ibrahim terus berlari sambil melihat kiri kanan, tapi tak seorang pun di sana, lalu ia berucap, “Semoga Allah memberikan kutukan kepada Iblis!” Dia pacu kembali kudanya. Namun, lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kall. la lalu berhenti dan berkata, “Apakah itu sebuah peringatan dari Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada Nyal”

Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Lalu memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakal. Setelah mengenakan pakalan usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya. Dari sinilah drama kesendirian Ibrahim bermula. Istana megah ia tinggalkan dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya. Berbulan bulan mengembara, Ibrahim tiba di sebuah kampung bernama Bandar Nishafur.

Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir dan memperbanyak lbadah. Hingga tidak lama kemudian, keshalihan, kezuhudan dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak di antara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrahim selalu menolak. Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishafur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya.

Pernah satu ketika, di suatu kampung Ibrahim kehabisan bekal. Untungnya, ia bertemu dengan seorang kaya yang membutuhkan penjaga untuk kebun delimanya yang sangat luas. Ibrahim pun diterima sebagai penjaga kebun, tanpa disadari oleh orang tersebut kalau lelaki yang dipekerjakannya adalah Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang sudah lama ia kenal namanya. Ibrahim menjalankan tugasnya dengan baik tanpa mengurangi kuantitas ibadahnya. Satu hari, pemilik kebun minta dipetikkan buah delima. Ibrahim melakukannya, tapi pemilik kebun malah memarahinya karena delima yang diberikannya rasanya asam. “Apa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam,” tegurnya. “Aku belum pernah merasakannya, Tuan,” jawab Ibrahim. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu, tapi pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding kamu.” “Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi,” jawabnya. Dia pun dipecat, lalu pergi.

Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria sedang sekarat karena kelaparan. Buah delima tadi pun diberikannya. Sementara itu, tuannya terus mencarinya karena belum membayar upahnya. Ketika bertemu, Ibrahim meminta agar gajinya dipotong karena delima yang ia berikan kepada orang sekarat tadi. “Apa engkau tidak mencuri selain itu?” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu,” tegas Ibrahim.

Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat pekerja baru. Dia kembali meminta dipetikkan buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling manis. Pemilik kebun bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. “Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar, “Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan istananya karena zuhud.” Pemilik kebun pun menyesali tindakannya, “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Menjelang kedatangannya di Kota Makkah, para pemimpin dan ulama bersama sama menunggunya. Namun tak seorang pun yang mengenali wajahnya. Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang Kota Makkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengenal Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang terkenal itu?” “Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim balik bertanya.

Mendapat jawaban yang tidak sopan seperti itu, orang tersebut lantas memukul Ibrahim, dan menyeretnya menghadap pemimpin Makkah. Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama, “Untuk apa kalian menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Tetapi, dalam hatinya Ibrahim bersyukur diperlakukan demikian, ia berkata, “Wahai Ibrahim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu tangan-tangan penguasa ini.”

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan seorang bekas penguasa seperti Ibrahim bin Adham, dari pengalamannya memperbarbaiki diri, dari kesendiriannya menebus segala kesalahan dan kelalaian, dari keikhlasan, kezuhudan, dan ketawadhuannya yang tak ternilai.

Berbaik Sangka.!! Kisah Sufi Ibrahim bin Adham



Suatu ketika Ibrahim bin Adham berjalan di tepi pantai. Tak disengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak Sufi ini, bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta.

Tak hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berserakkan, dimana ada bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya.

Kemudian, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir, betapa musykilnya sepasang manusia tersebut, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tidak memiliki dosa.

Lalu, tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan siapapun yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan.

Sebagian mereka sukses menyelamatkan dari terjangan ombak. Namun naas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang laut. Sekejap, pria mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut.

Ia berusaha menarik satu-persatu laki-laki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terdiam, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.

Sementara itu, si pria itu begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham.

Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu saya hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kamu seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa saya selamatkan.”

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, pria kembali berkata, “Wanita yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan, minuman yang kami minum hanyalah air biasa,” katanya memberikan penjelasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian itu mampu menyadarkan sang Ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Pria yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah.

Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya.  Bila seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap tersebut, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada di posisi seringkali ‘memvonis’ manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu hanya sedikit tentang kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tidak pantas atau tak layak.

Terkadang, bila seorang teman kita yang Muslim yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beranggapan bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tidak melihat kita.

Ketika seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa dia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya.

Di saat seorang sahabat kita tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhuwah Islamiyah dengan sesama Muslim salah satunya disebabkan oleh salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersuudzon (berprasangka buruk). Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang.

Sementara itu, tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan anti kritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri yaitu segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.

Rasulullah SAW memberikan nasehat, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk merupakan seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah SWT yang bersaudara” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari Hadis no. 6064 dan Muslim Hadis no. 2563).

Pesan dari Nabi Muhammad SAW tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Rasulullah SAW jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.

Berburuk sangka termasuk perilaku yang salah, sekaligus pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala seidkit pun.

Sedangkan, bila ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.

Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di usianya yang belia, ia masih sedikit dosa dan salah.

Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, lantaran usianya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita.

Bertemu orang gila sekali pun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk Surga dibandingkan dengan kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela.

Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk melihat, mendengar, dan mengucap dosa


Minggu, 06 Maret 2016

HARI GURU


SISWA SISWI SMP SALAFIYAH DARUL FALAH 
MERAYAKAN HARI GURU YANG KE 70 


h
a
l
a
F
l
u
r
a
D
h
a
y
i
f
a
l
a
S
P
M
S